Langsung ke konten utama

Belajar Menemukan Sintesis

Kepada Tesa/Echa/Mimin/Niki kekasihku.

Dua bulan berjalan dalam hubungan kita, dan aku selalu bersyukur bisa kenal, dekat, jalan, dan bersama-sama dengan kamu. Jika kamu bilang bahwa sebaiknya kita berantem atau bertengkar, "supaya seru", katamu; nampaknya akhir-akhir ini gurauan ini mulai terwujud. Sejujurnya, ini sesuatu yang sebisa mungkin ku hindari. Tapi, normalnya suatu hubungan yang begitu dekat dan intim macam yang kita jalani hari-hari ini, apalagi dalam relasi asmara begini, nyaris mustahil tidak ada gesekan, pertentangan, kesalahpahaman, dan berbagai persoalan sejenis.

Memang, justru aneh jika semuanya berlangsung seolah lurus, normal, dan baik-baik saja. Dua minggu lalu aku membaca sebuah refleksi yang ditulis seorang kawan bernama Dhias. Ia bercerita bahwa dalam hubungan berpacaran yang ia juga jalani, justru bertengkar menjadi salah satu "agenda wajib" yang mesti ia lakoni. Tapi tentu saja pertengkaran/berantem bukan dalam konotasi negatif, melainkan adu argumen untuk mencari kesepakatan atau jalan tengah dari dua gagasan yang berbeda dari dua kepala yang akan hidup bersama.

Tentu saya mengamini hal ini, karena dalam perjalanan kita berdua, kita sering diperhadapkan dengan berbagai kebiasaan, cara berpikir, serta titik berdiri yang dalam beberapa hal berseberangan. Di titik ini kemudian aku sering sekali bersyukur, menemukan pasangan yang justru mendorongku untuk selalu, sebisa mungkin, mengekspresikan emosi yang sedang dirasakan; entah itu senang, bungah, sumringah, murung, bahkan kesal atau marah. Tiga terakhir ini yang seringkali saya pendam, yang sialnya, selalu menjadi bom waktu karena menyembunyikan persoalan sejatinya hanya akan membuatnya meledak di momentum yang seringkali juga tidak pas.

Aku senang karena Echa pacarku ini mengajariku untuk selalu mengutarakan pikiran dan perasaan dengan jujur dan terbuka, sehingga jika ada yang tidak sejalan bagi kami berdua, dapat dicarikan solusi untuk mengatasinya. Sesuatu yang nampaknya sederhana, tapi memang sulit sekali saya lakukan bertahun-tahun sejak dulu.

Terima kasih ya, Echa, kekasihku, sudah mengajariku soal ini. Semoga tidak bosan-bosan untuk terus bersamaku :)


Sedang fokus bekerja. Biasanya sembari ku ganggu supaya diperhatikan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Sering Ku Ajak Ngomong

Sering masih tidak percaya kenapa Echa pacarku ini tertarik alias naksir denganku. Berkali-kali ku tanyakan padanya, dan jawabannya juga sudah sering ku dengar, tapi tetap saja rasanya masih seperti mimpi. Berkenalan, berteman, dekat, dan kemudian menjadi pacar, adalah sesuatu yang nyaris tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. Echa, sosok perempuan kekinian, yang rasanya jauh sekali bisa ku gapai dan tak mungkin didekati, yang hanya sebatas ku amati, ku selidiki, dan (tentu saja) ku kagumi dari kejauhan sejak awal-awal ia lanjut studi dulu. Sedangkan, diriku nampaknya ya begini-begini saja, dalam beberapa hal cenderung payah, tidak ada hal menarik atau istimewa yang dapat dibanggakan, yang dapat menarik perhatian lawan jenis apalagi –nyaris nol! Maka ketika sebulan lalu kami akhirnya benar-benar berpacaran, pertanyaan-pertanyaan lama itu masih terus terngiang, tapi sekaligus dalam beberapa hal saya bisa menemukan sedikit jawaban, meski entah tepat atau tidak. Yang pasti, ku merasa menem...