Sering masih tidak percaya kenapa Echa pacarku ini tertarik alias naksir denganku. Berkali-kali ku tanyakan padanya, dan jawabannya juga sudah sering ku dengar, tapi tetap saja rasanya masih seperti mimpi. Berkenalan, berteman, dekat, dan kemudian menjadi pacar, adalah sesuatu yang nyaris tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. Echa, sosok perempuan kekinian, yang rasanya jauh sekali bisa ku gapai dan tak mungkin didekati, yang hanya sebatas ku amati, ku selidiki, dan (tentu saja) ku kagumi dari kejauhan sejak awal-awal ia lanjut studi dulu. Sedangkan, diriku nampaknya ya begini-begini saja, dalam beberapa hal cenderung payah, tidak ada hal menarik atau istimewa yang dapat dibanggakan, yang dapat menarik perhatian lawan jenis apalagi –nyaris nol!
Maka ketika sebulan lalu kami akhirnya benar-benar berpacaran, pertanyaan-pertanyaan lama itu masih terus terngiang, tapi sekaligus dalam beberapa hal saya bisa menemukan sedikit jawaban, meski entah tepat atau tidak. Yang pasti, ku merasa menemukan kecocokan yang sangat pada sosok ini, yang bisa ditengarai dari kesamaan obrolan yang bisa kami dapatkan. Lagian kalau dipikir-pikir, orang suka atau senang terhadap sesuatu tidak selalu membutuhkan alasan, ya. Jadi bebas saja, ada atau tidak ada rasionalisasi, apalagi dalam urusan asmara, harusnya tidak menjadi soal.
Yang jelas, sebulan berjalan "resmi" bersama Echa membuatku merasa menemukan dunia yang sepertinya sudah terbenam beberapa tahun belakangan. Aku menemukan suatu kelegaan, kebebasan, dan rasa senang sekaligus nyaman di saat bersamaan. Dan untuk ini, ku sangat berterima kasih pada Echa pacarku yang sudah mau menerima diriku ini, memberiku kasih sayang dan perhatian yang membuatku bungah dan selalu kangen akan sosoknya. Jangan bosan-bosan denganku, ya, sayang. Bersyukur sekali bisa kenal, dekat, dan jadi pacarmu.
Semoga saja ini bukan hanya karena permulaan rasa berbunga-bunga ini mekar. Inginnya, seterusnya. Meski hanya bisa berusaha sembari sedikit menebak-nebak, tapi kalau boleh order doa ke Tuhan, mudah-mudahan bisa berlanjut terus, jauh sampai kemudian hari.
Gusti, paringi pangestunipun, saestu!
![]() |
| Membaca sebuah keterangan pameran. |

Komentar
Posting Komentar