Kepada Tesa/Echa/Mimin/Niki kekasihku. Dua bulan berjalan dalam hubungan kita, dan aku selalu bersyukur bisa kenal, dekat, jalan, dan bersama-sama dengan kamu. Jika kamu bilang bahwa sebaiknya kita berantem atau bertengkar, "supaya seru", katamu; nampaknya akhir-akhir ini gurauan ini mulai terwujud. Sejujurnya, ini sesuatu yang sebisa mungkin ku hindari. Tapi, normalnya suatu hubungan yang begitu dekat dan intim macam yang kita jalani hari-hari ini, apalagi dalam relasi asmara begini, nyaris mustahil tidak ada gesekan, pertentangan, kesalahpahaman, dan berbagai persoalan sejenis. Memang, justru aneh jika semuanya berlangsung seolah lurus, normal, dan baik-baik saja. Dua minggu lalu aku membaca sebuah refleksi yang ditulis seorang kawan bernama Dhias. Ia bercerita bahwa dalam hubungan berpacaran yang ia juga jalani, justru bertengkar menjadi salah satu "agenda wajib" yang mesti ia lakoni. Tapi tentu saja pertengkaran/berantem bukan dalam konotasi negatif, melainkan a...
you and me against the world